Hujan. Sebuah bangku, sepi yang lebam. Berdiam di ujung beranda dalam tempiasnya yang menggigilkan. Gelap mulai menyaru, menepis jingga di ujung senja. Termangu mengeja aroma tanah basah, membiarkan percik yang jatuh menebarkan bulir2 teramat halus ke ujung kulit. Membasahi lengan kemeja. Dingin. Tapi tak hendak beranjak. Hujan adalah penyimpan rahasia, saat aku bisa bertutur sepuas napas tanpa terdengar semesta. Karena hujan akan menyarukan suara-suaraku, menyembunyikannya dari burung-burung yang ingin tahu. Hujan akan mengambil teriakanku, yang adalah kumandang namamu dan menjatuhkannya ke tanah tanpa sehelai daunpun mampu mengejamu. Hujan adalah penjaga setiaku. Dia yang menyamarkan rona wajahku yang malu-malu, dan membiarkanmu tak tahu aku menunggu sapa dan tatapmu, dia juga yang menghapus jejak airmataku dan mengambilnya sebagai rinainya sendiri tanpa perlu menyampaikannya padamu.
Hujan. Sebuah bangku, dan rindu yang lebam. Aku menyapamu seramah rembulan saat purnama. Aku menuliskan indahmu dengan tinta yang kupinjam dari ganesha. Aku melafadzkan namamu dengan ketakziman yang dipunyai pertapa. Tapi kurasa kau tak mendengarku, kurasa kau tak hiraukanku. Tapi apa peduliku? Dan hujan menenangkanku, dia menangkap kecewaku dan menyampaikannya pada petir. Saat petir memecahkan amarahnya, kembali semesta tak perlu tahu kalau dia membawa serta geletar kecewaku. Ah, hujan memang selalu punya caranya sendiri untuk menyesap lukaku..
Hujan. Sebuah bangku, aku dan kamu dalam kenangan yang membiru, lebam. Derai tawa yang pecah menimpali derasnya, kita berbincang, diujung berandaku. Kau kisahkan berlembar lakon, dengan bahasamu yang khas, dengan ekspresi wajahmu yang lepas, kau biarkan burung malam cemburu pada binar bahagiaku, kurasa dia juga ingin berada di sampingmu dan tertawa sepertiku. Hujan, gigil. Aku mengenangnya sebagai saat pertama dimana aku bisa merasai hangatnya sebuah dingin malam. Adalah lakon kita, dalam iringan nyanyian semesta, mungkin sebuah lagu cinta atau entah.. bagiku, ini adalah cinta.
Hujan. Sebuah bangku, serpihan luka, lebam. Di ujung berandaku, membayang hangat wajahmu. Menyeka rindu yang parau. Sekian musim berlalu dalam ragu, aku menjemput diam dan membiarkannya menghuni tuturku. Entah bagaimana aku menyapamu, kurasa aku tak lagi seramah rembulan saat purnama. Bukan, bukan karena aku tak mau, tapi hujan memintaku. Biarlah hanya aku dan hujan yang tahu, tentang sebuah cinta yang tak lagi terceritakan. Tersimpan. Sebuah cinta tak bertuan.